Pages

AndA pEngUnjUng kE

Friday, November 22, 2013

Hidup – Cerpen Cinta – karya Tiara Dinda Astari

Udara pagi yang begitu sejuk semakin menahan ku untuk beranjak dari pembaringan. Aku terbayang akan betapa padatnya kegiatan hari ini. Masa masa menuju Ujian Nasional,tugas yang bertumpuk dan nilai-nilai yang harus dituntaskan. Dan akhirmya aku paksakan untuk beranjak. Saat bersiap aku juga teringat bahwa ibu akan pergi dinas ke Bukit Dua Belas untuk beberapa hari kedepan untuk melakukan penelitian.
“Ibu akan pulang besok atau lusa. Nanti mbak Kinan yang akan menjemput kamu sepulang sekolah. Uang jajan kamu juga sudah ibu titipkan dengan dia. Inget ya kamu tidak boleh nakal,belajar yang rajin dan…” blablabla. Aku sudah hapal semua kata-kata itu. Ibu hamper selalu memberikan wejangan yang sama saaat akan bepergian dinas ke luar kota. Dan seperti bias,aku hanya bisa mengangguk,segera menghabiskan makananku dan beranjak pergi sekolah. Aku tau aku tidak boleh marah atas semua ini,ibu melakukan semuanya untukku. Aku selalu berusaha untuk mengingat itu!
“Tita Tita tunggu.. Tita tunggu” Suara Iris terdengar memanggilku.
“Cepetan Ris nanti kita keburu basah” Jawabku sambil melihatnya kebelakang setengah berlari.
Iris segera berlari menyusulku. Iya,hujan kembali turun hari ini. Aku suka hujan! Entah mengapa hujan datang seakan tau dengan perasaanku. Dan pagi ini saat aku tak mengerti dengan apa yang sedang kurasakan,hujan kembali hadir seakan akan menghiburku.
Hidup PART 1   Cerpen Cinta Cerpen+Cinta+Hidup
Hidup – Cerpen Cinta – karya Tiara Dinda Astari
Di tengah pelajaran ekonomi konsentrasiku terbuyar melihat dua orang cowok yang sedang bersenda gurau di depan kelasku. Mereka anak kelas belakang, iya aku tau mereka. Itu Aldian dan Ryan. Iy, mereka teman ku di ekskul basket. Jam segini? Apa mereka tidak belajar?
“Titania! Titania! Titania!!!”
“Ha? Ha? Iya bu. Ada apa?
“ Dari tadi saya perhatikan kamu melamun terus,apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Ee anu bu anu,saya lagi mikir. Iya saya lagi mikir”
“Mikir? Apa yang kamu pikirin?
“Mikir jorok tuh bu!” Riki menyahut dari pojok kelas diikuti tawa riuh seisi kelas.
“Sudah sudah sudah,kok malah jadi ribut begini..” Tetttt!! Bel tanda pelajaran berakhir pun telah berbunyi saat bu Sri belum menyelesaikan ocehannya. Teman temanku segera beranjak membereskan barang-barang mereka dan langsung menuju kantin.
“Mam minuman kamu!” Kataku setengah berteriak. Imam segera menghampiriku diikuti teman-teman yang lain. Padahal aku hanya membeli 2 botol air minum. Sudahlah,yang kehausan mereka juga.
“Eh main gitar dong aku bosen ni”
“Kamu yang nyanyi ya tit?” Kata Andra Memaksa. Aku hanya bisa mengangguk. Setelah itu bukannya Andra yang memainkan gitar justru Aldian yang mulai memetik gitar itu dan mulai bernyanyi.
Beergegaslah kawan sambut masa depan
Kita berpegang tangan saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Tenanglah sahabat,kita untuk slamanya
Aku suka permainan gitarnya. Iya,cuman permainan gitarnya!“Tit enggak gitu juga kali ngeliatin si Ian main gitarnya” Suara Imam mengangetkan ku. Aku melamun!“Hah enggak kok,lagu nya bagus! Cocok baget ya buat kita” Kata ku tersendat.“Jangan-jangan suka juga sama yang main gitar.hahaha.” Kata Imam menggodaku dan diikiuti terikan ejekan teman-teman yang lain. Entah kenapa aku kembali merasakan pipiku memanas,aku menahan malu. Kenapa aku ini? Apa benar aku suka pada Aldian. Jam masuk berbunyi,aku segera meninggalkan tempat tanpa sepatah kata pun.“Hati-hati ya Tit belajar yang bener,jangan mikirin Aldian ya. Kalo kamu suka tinggal cerita aja sama aku.” Kata Imam yang masih sempat menggodaku.
***
Dikelas aku mengikuti pelajaran dengan serius. Iya aku tak mau mendapatkan nilai yang mengecewakan. Ibu pasti akan kecewa sekali. Oleh karena itu aku harus rajin,catatan ku harus lengkap,aku suka sekali menambahkan warna agar catatan ku terlihat menarik. Aku juga tidak boleh terlambat mengumpulkan tugas. Pokoknya aku harus serius belajar! Setidaknya sampai Ujian selesai. SEMANGAT TITA!
“Baiklah anak-anak sekarang tolong kalian kerjakan tugas yang ibu catat dipapan tulis. Sebelum pelajaran ini selesai kalian sudah harus mengumpulkannya.” Perintah bu Tuti sesaat setelah beliau menjelaskan materinya.
Aku pun mulai mengerjakan tugas itu dengan serius. Aku senang dengan ini semua. Aku merasa aku pasti bisa membuat ibu bangga dengan nilai akhirku nanti. Dan semua terselesaikan dengan cepat. Saat setelah mengerjakan tugas aku menunggu bel pulang,aku merasakan lelah sekali hari ini. Sampai rumah nanti aku mau membeli jagung bakar kesukaanku di Tanggo Rajo. Setelah itu aku akan mandi,makan,tidur. Semua nya terasa nikmat pastinya. Dan saat aku sedang melamun Aldian lewat didepan kelasku. Aku sontak melihat keluar jendela,membuat sorotan pertanyaan dari teman sekelas.
“Enggak ada apa-apa kok. Hehe.” Aku salah tingkah. Tak beberapa lama kemudian jam pulang berbunyi. Aku segera mengumpulkan tugas dan membereskan alat tulisku. Aku harus cepat pulang,aku lelah sekali hari ini. Aldian! Dia sedang main basket dengan teman teman yang lain. Aku berjalan menuju gerbang depan dengan langkah tergontai.
***
Aku terbangun dengan badan yang masih pegal sekali. Rasanya waktu istirahat ku masih kurang. Ingin sekali libur hari ini. Tapi..tidak tidak! Aku tidak boleh libur. Sekilas aku terbayang dengan Aldian. Oh Tuhan! Sepertinya aku memang benar menyukai Aldian. Tapi kenapa? Imam,iya Imam. Aku harus cerita dengan Imam.
SMA N 3 Kota Jambi
Kalian tau definisi menyebalkan itu apa? Menyebalkan adalah saat kalian pagi-pagi dateng ke sekolah mencari orang,setelah itu enggak ketemu,eh tau-taunya orang yang kalian cari ada dikelas kalian! Iya,Imam ada di kelas aku.
“Mam aku mencari kamu tau..” Kataku mengeluh sambil menaruh tasku di sebelah tempat duduknya.
“Tumben kamu mencariku? Ada apa?” Imam membetulkan posisi duduknya menghadapku.
“Gue galau mam. Dan ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku enggak pernah galau lagi” Kataku masih dengan suara yang sendu.
“Loh? Kok bisa? Siapa laki-laki yang tidak beruntung itu?” Kata Imam menghina.
“Sialan! Aku serius ni. Aku datang pagi-pagi mau cerita sama kamu eh kamu nya malah menghina aku.” Kataku cemberut.
“Hahaha maaf ya maaf. Oke,sekarang cerita kenapa kamu galau dan siapa yang buat kamu galau?” Kata Imam mulai memperhatikan.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya aku malas untuk bercerita. Aku tau pasti sesudah ini Imam akan mengejekku. Tapi aku tidak bisa memendamnya sendiri.
“Kamu janji ya enggak akan memberi tau ini ke siapa-siapa? Terus kamu jangan mengejekku ya? Janji ya mam?” Kataku setengah memohon.
“Iya Tita. Aku janji. Bawel amat si mau cerita aja.”
“Kayaknya aku suka sama Aldian deh mam,tapi aku enggak tau kenapa.” Aku tak berani melihat wajah Imam saat bercerita. Tapi aku tetap bisa meihatnya menahan senyum dari ekor mataku.
“Mam kamu dengerin aku enggak si?! Aku suka sama temen kamu mam. Suka banget mungkin!” kataku keceplosan. Aku langsung menutup mukaku,malu sekali rasanya mengakui itu.”
“Hihi sejak kapan sih?”
“Aku juga enggak tau Mam, tapi waktu aku melihat dia main gitar aku kagum banget sama dia.” Kataku mencoba menjelaskan.
“Cuma kagum saja kan Tita?”
“Iya, awalnya memang hanya kagum saja. Tapi setelah itu aku jadi kepikiran. Dan sepertinya aku suka sama dia.” Suara ku mengecil saat mengucapkan kata-kata terakhir tadi.
“Oke oke aku mengerti sekarang. Dari tingkat kegalauan kamu,aku juga sudah bisa melihat si. Hahaha,sekarang kamu nikmatin dulu deh suasana yang seperti ini. Nanti kita liat perkembangan selanjutnya. Kalau ada apa-apa cerita aja ke aku. Aku ke kelas dulu ya,sebentar lagi masuk ni. Aku belum menyelesaikan pr nya bu Tuti. Dada Tita,selamat bergalau ria.” Imam pergi meninggalkan senyum nakalnya. Aku melemparkan gulungan kertas ke arah nya dan mengenai punggungnya.
Sindrom seperti ini sudah lama sekali aku tinggalkan. Aku sempat takut untuk jatuh cinta dan menyukai seseorang lagi setelah kekecewaan yang pernah aku alami dengan lelaki bernama Rama beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang aku tidak dapat menghindarinya. Iya,mungkin ini sedikit terlalu berlebihan.Tapi sepertinya,bukan sepertinya lagi! Iya aku memang sedang jatuh cinta.
“Tita? Kamu kenapa? Sepertinya tidak semangat sekali hari ini?” Pertanyaan Iris membuatku sedikit terkejut.
“Enggak ada apa-apa kok Ris. Mungkin aku cuma lagi stres aja. Ujian kita semakin dekat kan?” Kataku mencoba mengelak.
“Tapi aku rasa bukan ujian deh yang buat kamu kayak gini?” Iris mengerutkan dahinya.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Iya,memang bukan ujian yang semakin dekat yang membuatku seperti ini Ris,tapi ada sesuatu yang lain yang belum bisa kuceritakan sekarang kepadamu. Kataku dalam hati.
Kantin sepi sekali jam istirahat ini,tidak begitu sepi sih. Cuman suasananya tidak seperti biasanya. Terlalu sumpek! Aku dan Iris bisa memilih untuk duduk dimana saja. Saat aku mencari tempat yang pas aku mendengar namaku dipanggil.
“Tita duduk disini aja” Imam memanggilku yang sedang kebingungan memilih tempat duduk. Saat itu aku hanya diam dalam tawaan dan lelucon mereka. Tidak tau mengapa malas sekali untuk berbicara dan membalsan guyonan mereka saat itu. Aku hanya sesekali memperhatikan senyuman nya yang menunjukkan gigi putih yang rata. Tenang sekali rasanya.
“Tita! Kamu kok diam aja sih dari tadi? Tidak seperti biasanya?” Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Andra.
“Iya nih si Tita dari kemarin kemarin,tadi pagi,beda sekali Ndra. Enggak mau cerita lagi.” Kata Iris menambahkan.
“Tita lagi galau kali,iya enggak tit?hahaha” Imam berusaha menyindirku. Aku menginjak kakinya dan bisa melihat perubahan ekspresinya.
“Udahlah,mungkin Tita lagi males ngomong aja. Dia juga punya mood kali,mungkin akhir-akhir ini moodnya kurang baik. Mungkin nanti seperti biasa lagi. Iya enggak Tit?” Aku hanya mengangguk mendengar kata-kata darinya. Iya,Ian yang mengeluarkan kata-kata itu. Pengertian sekali ya?

Tetttttt!!!!
Saat mendengar bel masuk kami bergegas meninggalkan kantin. Aku,iris dan yang lain berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Iris berjalan didepan bersama Andra,Riki dan Aldian. Sedangkan aku yang ditarik Imam dan Ryan berjalan dibelakang.
*** Aku terbangun disuasana sore yang mendung. Langit tak begitu gelap tapi juga tak begitu terang untuk pukul 16.20 WIB daerah Mayang saat itu. Aku mendengar handphone ku berbunyi dan tanganku mulai meraba mencarinya. Yap dapat! Aku melihat nama Iris terpampang disana.
“Halo?” kataku masih setengah sadar.
“Tit kamu bangun tidur ya? Kata Iris diseberang telephone sana.
“Iya,ada apa Ris?”
“Kamu kumpulin dulu nyawa kamu. Setelah itu kamu harus mendengar ceritaku.” Aku mendengar suara Iris yang begitu bersemangat. Huahhhh dan aku pun menguap.
“Ada apa si Ris? Langsung cerita saja”
“Hihiihi aku jadian Tit” Kata Iris menahan tawanya.
“Ha?? Siapa? Siapa? Siapa Cowok yang punya mata minus terus nembak kamu itu?” Kataku setengah bercanda.
“Ihh menyebalkan sekali sih Tit. Hahaha siapa ya?? Kamu kenal orang nya kok.” Kata Iris lagi.
“Siapa si? Beri tau sajalah. Aku lagi malas main tebak-tebakan.
“Aldian Tit,Aldian nembak Aku dan Aku udah jadian.”

Aku termenung mendengar nama itu. Aldian nembak Iris dan Iris menerimanya. Mereka sudah jadian sekarang. Dan aku? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
“Tit? Tita kamu masih disitukan?” Suara Iris sahabatku memecahkan lamunanku.
“Masih kok. Selamat ya Ris. Semoga kalian langgeng.” Aku langsung menutup telephone setelah itu tanpa menunggu respon dari Iris. Setelah itu aku benar benar mematikan handphone ku.
Butiran air itu turun dari kelopak mataku. Aku tak bisa menahannya untuk jatuh. Ini adalah luapan emosiku. Aku memandangi jendela yang mulai basah karena hujan yang mulai turun. Kenapa langit menangis juga? Apa ia berusaha mengimbangiku? Mengejekku? Atau berusaha mengerti perasaanku?
Pandangan ku beralih dengan foto didalam bingkai yang kutaruh di meja sebelah tempat tidurku. Ada fotoku bersama Iris sedang berpelukan. Disebalahnya ada fotoku yang sedang latihan basket bersama Ryan,Imam,Andra dan… Aldian. Butiran air itu tambah deras meluncur ke pipiku saat aku melihat senyumannya di foto itu. Keesokan harinya saat hujan masih turun..
Saat sampai disekolah aku pikir aku sudah bisa melupakan semuanya. Tapi ternyata tidak. Ditambah lagi aku melihat sahabatku yang berlari menghindari hujan bersama orang yang aku sukai. Aldian menutupi kepala Iris dengan jaketnya. Beruntung sekali dia,tidak seperti aku.
“Tita!!”Aku mendengar namaku dipanggil. Malas sekali rasanya untuk menjawab,tapi aku tetap menoleh.
“Tit,ee kamu sudah…?” Imam menggantungkan pertanyaan nya. Berusaha menyusun kata-kata yang tepat dengan raut wajah yang ragu.
“Sudah kok mam. Aku sudah tau.” Aku menjawab dengan pasti.
“Kamu enggak apa-apa kan? Sabar ya Tit,aku sama Ryan juga terkejut sekali.”
“Iya aku enggak apa-apa.” Aku pergi begitu saja meninggalkan Imam dengan senyuman palsuku. Imam tidak mengejarku. Mungkin dia tau aku sedang ingin sendiri. Tau-tau desta datang menghampiriku.
“Tita? Makasih banget ya . kamu sukses membantuku lagi.” Kata Desta sambil tersenyum.
“Makasih buat apa? Aku membantumu apa?”
“Aduh kamu lupa ya? kamu jadi mak comblang aku sama Nina. Dan sekarang aku sudah jadian. Terimakasih banyak ya Tit.” Desta langsung pergi meninggalkan ku.
Aku bingun,kenapa aku bisa melakukan itu untuk mereka tetapi tidak untukku ?
***
Saat jam pulang sekolah Iris yang hendak pulang bersama Aldian dicegat oleh Imam. Imam menarik tangan Iris dan meninggalkan Aldian. Aldian tidak mencegah kepergian Iris dan Imam. Dia merasa sepertinya memang ada sesuatu yang serius yang ingin dibicarakan. Dan Aldian pun memutuskan untuk pulang.
“Ada apa mam?” Iris membuka pembicaraan mereka.
“Aku jadian sama Aldian?” Tanya Imam tanpa melihat ke arah Iris.
“Iya,bukannya kamu sudah tau kan?”
“Kamu cerita ke Tita?” Imam bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Iris yang sebelumnya.
“Iyalah. Dia kan sahabatku,mustahil sekali aku enggak cerita.”
“Apa kamu bilang? Kamu sahabat Tita?”
“Iya mam. Kok kamu jadi stres seperti ini sih. Tidak jelas mau membicarakan apa dari tadi.”
Imam berusaha menahan emosinya. Tapi sepertinya tidak bisa.
“Kamu tuh yang stres! Kamu enggak tau kan apa yang lagi dirasakan Tita waktu tau kamu sama Aldian jadian?! Kamu enggak peka banget Ris! Itu yang kamu sebut sahabatan? Iya?!” Emosi Imam meledak.
“Memang ada apa sama Tita? Bukan nya aku enggak peka Mam,tapi Tita memang enggak mau cerita apa-apa.” Iris berusaha membela dirinya.
“Terus kalo Tita enggak mau cerita kamu diam saja,iya?! Kamu enggak mau cari tau atau emang enggak mau tau! Ha ?! Kamu jahat banget Ris.”
“Aku enggak mengerti jalan pikiran kamu mam. Ada apa sih sebenernya sama Tita?”
“Tita tu suka sama Aldian Ris! Suka banget. Ini pertama kalinya dia nge buka hatinya lagi setelah kekecewaan yang dia alamin beberapa tahun lalu sama Rama. Tapi sekarang kamu buat dia kecewa lagi!”
Imam terdiam setelah mengucapkan itu. Sebenarnya ia tak mau mengatakannya. Tapi ia tak rela Tita berada dalam keadaan seperti ini.
Iris yang mendengar kata-kata Imam sontak terdiam. Raut wajahnya tak kalah terkejut seperti sebelumnya. Timbul rasa bersalahnya terhadap Tita. Jadi ini yang disembunyikan Tita akhir-akhir ini dengan nya. Tapi kenapa Tita enggak mau cerita?
“Tapi aku bener-bener enggak tau mam.” Suara Iris mulai bergetar.
“Kamu bukannya enggak tau Ris. Tapi emang enggak mau cari tau karena kamu enggak mau tau!”
Iris menggigit bibirnya berusaha menahan air mata yang akan jatuh.
“Maafin aku Mam. Aku enggak akan seperti ini kalau aku tau semuanya.” Tangisan Iris mulai pecah seketika itu juga.
“Kamu enggak perlu minta maaf sama aku Ris. Kamu harusnya minta maaf sama Tita. Aku enggak tau seberapa kecewanya dia sekarang.” Suara Imam melemah,raut wajahnya yang tadinya tegang kini mulai mengendur.
“Terus apa yang harus aku lakukan sekarang Mam? Apa aku harus putus dari Aldian?”
“Aku enggak tau Ris. Sebaiknya kamu bicara dulu dengan Tita.” Imam menjawab pertanyaan Iris sambil menerawang entah kemana. Ia mulai tak tega mendengar tangisan Iris.
Dalam perjalanan Iris dan Imam hanya diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi ada satu pertanyaan yang sedari tadi ingin Iris tanyakan.
“Mam aku boleh tanya sesuatu?” Pertanyaan Iris ini hanya dijawab dengan anggukan Imam.
“Kenapa kamu begitu peka dengan apa yang dirasain Tita sekarang?”
“Aku udah lama suka sama Tita,Ris.” Jawaban Imam ini membuat Iris terkejut.
“Terus kenapa enggak kamu ungkapkan saja?” Tanya Iris lagi.
“Karena waktu itu dia sukanya sama Rama. Dia sayang dan berharap banget sama Rama. Jadi aku putuskan untul menunggu. Enggak tau sampai kapan.” Imam menjawab sambil berkonsentrasi dengan jalanan yang cukup macet.
Iris kembali terdiam mendengar jawaban Imam. Imam begitu tulus mencintai Tita. Imam tak ingin seorang pun membuat Tita kecewa. Termasuk dia!
Keesokan harinya
Saat sampai disekolah Iris melihat Tita yang sedang duduk tenggelam dalam buku bacaannya. Tita pintar sekali menutupi keadaanya.
“Tita maafin aku ya?” Iris menyapaku dengan dengan nada lemah.
“Minta maaf buat apaan Ris? Kamu baru dateng terus langsung minta maaf?” Aku menjawab pertanyaan Iris dengan senyuman tipisku.
“Udahla Tit,gak usah pura-pura lagi. Aku sudah tau kamu suka sama Aldian,dan aku salah sudah jadian sama dia.” Kata Iris menjelaskan dengan nada kecewa.
“Kamu tau dari Imam ya?” Aku mencoba mengintrogasinya.
“Enggak perlu aku tau dari siapa. Aku minta maaf banget Tit,aku enggak akan melakukan ini kalau kamu cerita sebelumnya. Maafin aku udah buat kamu kecewa lagi.” Iris menunjukkan rasa bersalahnya.
“Aku enggak apa-apa Ris,ini bukan salah kamu kok.” Kataku mencoba menenangkannya.
“Aku tau kamu kecewa Tit,aku janji akan putusin Ian. Asal kamu mau maafin aku ya?”
“Tapi kamu sayang banget sama Aldian kan Ris? Jujur deh sama aku.” Iris menjawab pertanyaanku ini dengan anggukannya.
“Aku enggak mau maafin kamu kalau kamu memutuskan dia Ris. Egois sekali kalau aku hanya memikirin perasaan aku sendiri dengan mengorbankan perasaan 2 orang. Kamu harus lanjut sama Ian,Ris. Aku enggak apa-apa kok,gue ikhlas. Oke,mungkin aku masih berusaha buat ikhlas.” Kataku pasti.
“Makasih banget ya Tit. Kamu baik banget. Kamu memang sahabat yang paling mengerti aku. Aku beruntung sekali punya sahabat kayak kamu.” Iris kemudian memelukku. Tangisannya tumpah seketika itu juga.
Seorang ibu tak pernah membenci anaknya sesakit apapun anak itu menyakitinya. Daun tak pernah membenci angin yang memisahkannya dengan ranting. Belalang jantan tetap mau menikahi belalang betina,meskipun dia tau da akan mati dimakan oleh sang betina.
Begitu pula aku,meskipun rasa sakitnya masih tetap ada dan tak tau sampai kapan. Aku berusaha untuk tetap ikhlas memaafkan Iris. Dan aku berterimakasih sekali kepada seseorang yang telah membuat masalah ini menjadi tak berlarut-larut.
***
Ujian Nasional pun telah tiba. Kami semua berjuang dengan keras dalam 4 hari ini. sDan pada hari kelulusan kami semua berdiri ditengah lapangan menunggu pengumuman dari kepala sekolah. Aku melihat Aldian yang memegang erat tangan Iris yang berdiri tak jauh dari ku. Iya,aku masih berusaha untuk ikhlas.
“Baiklah anak-anak hari ini bapak umumkan bahwa seluruh Siswa SMAN 3 Kota Jambi dinyatakan lulus 100%.” Pengumuman itu sontak diiringi teriakan kami semua. Senang sekali rasanya mendapatkan hasil yang memuaskan 3 tahun ini.
Sekarang waktunya untuk melanjutkan ke jenjang yang berikutnya. Aku mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas ternama di Belanda. Aku diberi kepercayaan untuk sekaligus menampilkan dan memamerkan budaya Indonesia khususnya Jambi tentunya. Saat sebelum keberangkatanku,aku banyak menghabiskan waktu bersama Iris,Imam,Ryan,Riki,Andra dan..Aldian .
“Hati hati ya sayang. Sering- sering kabarin ibu.” Kata-kata ibu membuat ku meneteskan air mata. Dan aku jatuh kedalam pelukan beliau.
“Tit ini ada titipan. Kamu harus lihat video nya pas dipesawat nanti.” Iris menyerahkan ipod nya kepadaku.
“Aku bawa ke Belanda ni?”
“Iya bawa saja.”
Saat aku membuka videonya,muncul wajah Imam disana dan dia tersenyum sebelum mulai berbicara.
“Tita aku enggak akan berpikir kalau ini terlambat. Mungkin kamu sudah tau ini dari Iris,tapi aku mau kamu tau dari mulutku sendiri.” Aku bisa melihat wajah Imam yang memerah saat itu,dan akupun tak bisa menahan senyum.
“Aku suka sama kamu Tit. Sudah lama sekali. Tapi aku enggak pernah berani buat ngungkapin nya. Mungkin kamu juga sudah tau alasannya kenapa. Dan kamu juga sudah membuat aku sayang sama kamu. Kamu selalu bisa bangkit dari kekecewaanmu. Kamu cewek yang tegar dengan kondisi ibu dan ayah kamu yang sudah pisah.” Imam terdiam berusaha mencari kata-kata.
“Aku selalu menunggu kamu disini Tit. Aku tau kamu akan pulang untuk aku. Baik-baik ya disana. Cerita sama aki kalau ada yang macam-macam dan buat kamu kecewa disana. Aku pasti ada buat kamu kapan pun. Selamat jalan ya Tita. Aku saying kamu. Rajin-rajin belajar supaya kamu cepat pulang lagi ke sini.” Tek! Video itu berakhir ditutup dengan senyuman Imam.
Aku tersenyum setelah melihatnya. Lalu segera menyimpan iopd itu kedalam tas dan mulai menikmati perjalan ku.
***
Aku mulai menjalankan aktivitasku sebagai mahasiswa hari ini. Unversitas yang cukup keren. Sangat keren malah. Aku betah disini. Tidak terlalu sulit untuk beradaptasi.
Bukkk!!!
Buku-buku yang kubawa jatuh menumbur seorang laki-laki. Aku segera membereskannya. Dan saat aku ingin meminta maaf dan melihat wajahnya. Aku sangat terkejut!
“Tita? Tita Ernesta Wijaya?”
“ Rama? Ramadinka Anwar?
*SELESAI*
 
 
 
PROFIL PENULIS Nama : Tiara Dinda Astari
TTL : Jambi,19 mei 1996
Asal Sekolah : SMAN Titian Teras H.Abdurrahman Sayoeti Jambi
Hobby : bermimpi,menulis,traveling,membaca
Cita-Cita : Public Relation,travel writer,pengusaha
facebook : Tiara Dinda Astari
twitter: @tiawwwa
instagram : tiawaaa

No comments:

Post a Comment